Tips Belajar Generasi Alpha di Era Digitalisasi

Generasi Alpha, yang lahir antara tahun 2010 hingga 2025, adalah generasi yang sepenuhnya terbentuk di era digital. Generasi ini tumbuh dengan kemajuan teknologi yang berkembang pesat, memiliki akses tak terbatas ke informasi, dan terbiasa dengan penggunaan perangkat digital sejak usia dini. Situasi ini membawa tantangan dan peluang baru dalam dunia pendidikan. Artikel ini akan membahas panduan belajar bagi Generasi Alpha untuk membantu mereka mencapai potensi maksimal, dengan referensi dari beberapa penelitian terkini.

Cari tahu info tentang Homeschooling Bintang klik di sini

  1. Pemanfaatan Teknologi dalam Pembelajaran


Gambar 1. Gen alpha main VR (Sumber : TheNetworkJournal.com)

Salah satu ciri utama dari Generasi Alpha adalah kedekatan mereka dengan teknologi. Teknologi tidak hanya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari tetapi juga alat utama dalam pembelajaran. Guru dan orang tua dapat memanfaatkan alat seperti aplikasi edukasi, video pembelajaran, atau virtual reality (VR) untuk menciptakan pengalaman belajar yang interaktif dan menarik.

Studi oleh Halverson et al. (2020) menunjukkan bahwa integrasi teknologi dalam pembelajaran membantu anak-anak memahami konsep yang kompleks dengan lebih mudah. Misalnya, menggunakan simulasi VR untuk mata pelajaran sains dapat memberikan pengalaman belajar yang mendalam dan mendekatkan anak-anak pada fenomena yang sulit dijangkau secara langsung.

  1. Penyesuaian Gaya Belajar Individual


Gambar 2 (Sumber : Suarajatimposr.com)

Tidak semua anak belajar dengan cara yang sama. Beberapa anak mungkin belajar lebih baik melalui visual, sementara yang lain lebih efektif dengan pendekatan verbal atau kinestetik. Generasi Alpha secara khusus membutuhkan pendekatan yang personal untuk memenuhi kebutuhan gaya belajar mereka.

Penelitian dari Salamah et al. (2021) menunjukkan bahwa strategi pembelajaran fleksibel memungkinkan anak-anak belajar dalam kecepatan mereka sendiri, yang sangat penting bagi Generasi Alpha yang tumbuh dalam lingkungan penuh distraksi. Dengan menyediakan beragam metode, seperti video, permainan edukasi, dan proyek berbasis kelompok, guru dan orang tua dapat memastikan bahwa setiap anak terlibat secara optimal.

  1. Mendorong Kreativitas dan Pemecahan Masalah


Gambar 3 (Sumber : eLearning Industry.com)

Generasi Alpha sangat penting untuk diajar berpikir kreatif dan mampu memecahkan masalah. Dalam dunia yang terus berubah, kemampuan adaptasi dan inovasi menjadi keterampilan utama. Pembelajaran berbasis proyek (project-based learning) adalah salah satu metode yang terbukti efektif.

Menurut Fell (2020), membiarkan siswa bekerja pada proyek tertentu, seperti menciptakan model lingkungan yang berkelanjutan, mempromosikan keterlibatan aktif sekaligus meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan kolaborasi. Selain itu, permainan seperti coding dan desain grafis juga dapat menjadi alat yang efektif untuk menstimulasi kreativitas.

  1. Belajar Melalui Permainan


Gambar 4 (Sumber : Morigro.id)

Gamifikasi adalah tren utama dalam pembelajaran modern. Generasi Alpha memiliki ketertarikan pada permainan digital, sehingga mengintegrasikan elemen ini ke dalam pembelajaran dapat memberikan hasil yang sangat positif. Misalnya, menggunakan aplikasi pembelajaran yang berbasis game untuk matematika atau sains dapat meningkatkan motivasi dan waktu belajar anak.

Pembelajaran berbasis game tidak hanya membuat proses belajar lebih menyenangkan tetapi juga meningkatkan daya ingat anak terhadap materi yang dipelajari.

  1. Membantu Anak Mengelola Distraksi Digital


Gambar 5 (Sumber : transparannews.id)

Salah satu tantangan utama Generasi Alpha adalah distraksi yang datang dari berbagai perangkat digital. Meski perangkat ini membantu dalam pembelajaran, mereka juga dapat menjadi sumber gangguan. Oleh karena itu, penting untuk mengajarkan anak-anak kebiasaan digital yang sehat.

Nurjanah & Mukarromah (2021) menekankan pentingnya waktu layar yang terstruktur untuk memastikan bahwa anak-anak menghabiskan waktu mereka secara produktif. Orang tua dan guru dapat menetapkan aturan waktu layar dan mendorong kegiatan offline untuk menjaga keseimbangan.

Artikel ini disusun oleh:
Rini Indahyani
Mahasiswa Program Pengenalan Lingkungan Persekolahan (PLP) Universitas Negeri Surabaya
dari S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Daftar Pustaka :

Halverson et al. (2020). Komunikasi Pendidikan & Pembelajaran Digital.

Salamah et al. (2021). Pemanfaatan Teknologi dalam Pendidikan Generasi Alpha.

Fell (2020). Kompetensi Digital Masa Depan.

Nurjanah & Mukarromah (2021). Tantangan Pendidikan di Era Digital.

https://tnj.com/generation-alpha/, diakses pada tanggal 20 Maret 2025

https://morigro.id/tumbuh-kembang/generasi-alpha/, diakses pada tanggal 20 Maret 2025

https://elearningindustry.com/how-can-blended-learning-prepare-digital-natives-and-gen-alpha-for-technological-frontier, diakses pada tanggal 20 Maret 2025

Read More

Kecerdasan Buatan (AI) Mengubah Wajah Pendidikan di Era Digital

Kecerdasan Buatan (AI) dalam Pendidikan adalah salah satu bentuk revolusi Pendidikan pada masa kini. Pendidikan menjadi salah satu sektor yang paling penting dalam pembangunan suatu negara. Dalam beberapa tahun terakhir, perkembangan teknologi telah membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan. Salah satu teknologi yang paling berpotensi dalam pendidikan adalah Kecerdasan Buatan (AI). AI telah digunakan dalam berbagai bidang, termasuk pendidikan, untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan mengurangi beban kerja guru. Namun, masih banyak yang belum dipahami tentang bagaimana AI dapat digunakan dalam pendidikan. Oleh karena itu, artikel ini akan membahas tentang tinjauan atas literatur tentang AI dalam pendidikan.

Artificial Intelligence: Masa Depan Pendidikan di Indonesia

  1. Pengertian Kecerdasan Buatan / AI dalam Pendidikan

AI dalam pendidikan adalah penggunaan teknologi AI untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan mengurangi beban kerja guru. AI dapat digunakan dalam berbagai bidang, termasuk pengembangan kurikulum, pengajaran, dan penilaian.

  1. Manfaat AI dalam Pendidikan

AI memiliki beberapa manfaat dalam pendidikan, termasuk meningkatkan kualitas pembelajaran lalu  Personalisasi Pembelajaran dalam AI mampu menganalisis data tentang gaya belajar, kekuatan, dan kelemahan setiap siswa. Dengan informasi ini, sistem AI dapat menyesuaikan materi pembelajaran, kecepatan belajar, dan metode pengajaran agar sesuai dengan kebutuhan individual.

Contoh: Platform pembelajaran adaptif yang menyesuaikan tingkat kesulitan soal berdasarkan kinerja siswa, atau rekomendasi materi belajar tambahan yang relevan dengan minat dan kebutuhan siswa.

Pembelajaran Berbasis Data dalam AI memungkinkan guru dan administrator untuk mengumpulkan dan menganalisis data tentang kinerja siswa, efektivitas metode pengajaran, dan tren pendidikan. Informasi ini dapat digunakan untuk membuat keputusan yang lebih baik tentang perencanaan pembelajaran, pengembangan kurikulum, dan alokasi sumber daya.

Contoh: Sistem AI yang menganalisis data tentang kinerja siswa dalam ujian standar untuk mengidentifikasi area kurikulum yang perlu ditingkatkan.

  1. Contoh Penggunaan AI dalam Pendidikan

AI telah digunakan dalam berbagai contoh dalam pendidikan, termasuk pengembangan sistem pembelajaran adaptif, penggunaan chatbot sebagai asisten guru, dan analisis data pendidikan menggunakan AI.

  1. Tantangan dan Batasan AI dalam Pendidikan

AI dalam pendidikan juga memiliki beberapa tantangan dan batasan, termasuk keterbatasan data, keamanan, dan privasi.

  1. Kelebihan AI dalam Pendidikan

1). Pembelajaran Mandiri

AI mampu belajar dari data yang ada dan meningkatkan kinerjanya seiring waktu. Dengan demikian, sistem AI dapat terus berkembang dan menjadi lebih cerdas seiring berjalannya waktu.

2). Efisiensi Tinggi

Dengan kecepatan pemrosesan yang tinggi, AI dapat menyelesaikan tugas-tugas dengan cepat dan akurat.

3). Kemampuan Analitik

AI mampu menganalisis data dengan cepat dan akurat, bahkan dalam jumlah yang sangat besar.

  1. Kekurangan AI dalam Pendidikan

1). Membuat Siswa Ketergantungan

Akses untuk AI sangatlah mudah dan menjadikan tugas mereka cepat terselesaikan. Maka hal ini berdampak akan membuat peserta didik menjadi ketergantungan.

2). Pergantian Pekerjaan Manusia

Kemampuan AI untuk mengotomatisasi tugas-tugas dapat mengancam pekerjaan manusia. Pekerjaan yang sederhana dan berulang dapat digantikan oleh sistem AI, sehingga mempengaruhi lapangan pekerjaan seperti Tentor Lembaga Pendidikan, Guru Les Privat, dll. AI dalam pendidikan memiliki potensi besar untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan mengurangi beban kerja guru. Namun, masih banyak yang belum dipahami tentang bagaimana AI dapat digunakan dalam pendidikan. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk memahami bagaimana AI dapat digunakan dalam pendidikan secara efektif.

 

Artikel ini disusun oleh:
Mahasiswa Program Pengenalan Lingkungan Persekolahan (PLP) Universitas Negeri Surabaya
1. Rini Indahyani – Mahasiswa Jurusan S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar
2. Firda Miliya Yasmin – Mahasiswa Jurusan S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar
3. Nurul Azizah – Mahasiswa Jurusan S1 Pendidikan Luar Sekolah
4. Malla Rusdianah – Mahasiswa Jurusan S1 Pendidikan Luar Sekolah
5. Muyun Nengse – Mahasiswa Jurusan S1 Pendidikan Luar Sekolah
6. Silvi Putri Margareta – Mahasiswa Jurusan S1 Pendidikan Luar Sekolah

Daftar Pustaka:

Microsoft. (2020). AI in Education: A Practical Guide for Educators.

Picard, R. W., & Shute, S. B. (2019). Artificial Intelligence in Education: A Review of the Literature. Journal of Educational Psychology, 111(3), 351-363.

UNESCO. (2020). Artificial Intelligence in Education: A Guide for Educators.

 

Read More

Pendidikan Zaman Dulu Vs Zaman Sekarang

Pendidikan zaman dulu jika dibandingkan dengan zaman sekarang terdapat perbedaan yang signifikan, berikut adalah perbedaannya:

  1. Pendidikan Zaman Dahulu

Pendidikan adalah proses untuk mengubah sikap dan perilaku seseorang dalam rangka mencapai kedewasaan, baik secara individu maupun kelompok, melalui pengajaran dan pelatihan. Pendidikan memegang peranan penting bagi individu, karena tanpa adanya dukungan dari diri sendiri maupun orang lain, seseorang akan sulit berkembang.

Pendidikan di Indonesia terus mengalami perubahan. Sistem pendidikan saat ini sangat berbeda dibandingkan dengan masa lalu. Perubahan ini terlihat dari tujuan bersekolah, akses terhadap pengajaran, sumber informasi, kurikulum, dan alat bantu belajar. Untuk menciptakan pendidikan.


( Sumber foto Compasinia.com )

yang berkualitas, upaya nyata perlu dilakukan sebagaimana diatur dalam UUD 1945 Pasal 31 tentang sistem pendidikan nasional. Tujuan utama pendidikan nasional adalah meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM). Hal ini juga ditegaskan dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) BAB II Pasal 3, yang menyatakan bahwa pendidikan nasional bertujuan mengembangkan kemampuan siswa, membentuk karakter bangsa yang bermartabat, serta mencerdaskan kehidupan masyarakat. Pendidikan juga diarahkan untuk menciptakan manusia yang beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.

Di masa lalu, sistem pendidikan cenderung bersifat tradisional dan konservatif. Pembelajaran lebih berpusat pada guru (teacher-centered), dengan penekanan utama pada hafalan dan latihan untuk menguasai pengetahuan faktual. Kurikulum saat itu lebih fokus pada penyampaian materi akademis


Sumber: UtakAtikOtak.Comyang

terstruktur, tanpa banyak memberi ruang untuk pengembangan keterampilan berpikir kritis, pemecahan masalah, atau penerapan pengetahuan secara praktis. Tujuan utama pendidikan di masa tersebut adalah membekali individu dengan pengetahuan dan keterampilan dasar yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pada zaman dahulu, akses siswa terhadap materi pembelajaran sangat terbatas. Selain belajar di sekolah, siswa sering mengikuti bimbingan belajar yang dipandu oleh wali kelas. Meski telah ada beberapa lembaga belajar, jumlahnya masih sangat minim. Mendapatkan tutor berkualitas pun cukup sulit. Sumber informasi menjadi kebutuhan penting bagi siswa untuk mendukung proses belajar, namun pada masa itu akses terhadap sumber belajar tidak seluas seperti sekarang. Referensi tambahan untuk memperkaya ilmu dan pengetahuan sulit diperoleh, karena sumber utama pembelajaran saat itu hanyalah buku dan koran.

Di masa awal pendidikan di Indonesia, banyak siswa yang tidak memiliki buku tulis karena harganya yang mahal dan ketersediaannya yang terbatas. Sebagai gantinya, mereka menggunakan sabak dan grip untuk belajar. Sabak adalah lempengan batu yang diberi bingkai kayu, menyerupai tablet modern, yang berfungsi sebagai media untuk menulis. Sementara itu, grip adalah  alat tulis


Sumber:museum Pendidikan nasional.

berukuran kecil mirip pensil, yang digunakan khusus untuk menulis di atas sabak. Penggunaan sabak dan grip cukup sederhana. Sabak berfungsi sebagai buku tulis, sedangkan grip digunakan sebagai alat tulis pengganti pensil atau pulpen. Untuk membantu siswa menulis dengan rapi, sabak sering dilengkapi garis bantu. Jika ingin membersihkan sabak, siswa cukup mencucinya dengan air dan menggosoknya menggunakan arang hingga bersih, sehingga dapat digunakan kembali untuk menulis.

  1. Pendidikan Zaman Sekarang

Pendidikan yang dirasakan saat ini dapat dikatakan jauh lebih baik dibandingkan masa lalu, di mana akses siswa terhadap pelajaran sangat terbatas. Dahulu, teknologi belum secanggih sekarang yang sudah berbasis digital. Dengan perkembangan teknologi yang pesat, pendidikan kini dilengkapi berbagai fasilitas canggih yang memudahkan proses belajar-mengajar. Tentunya, untuk mencapai kondisi ini, sistem pendidikan telah melalui proses panjang dan berkelanjutan.

Seiring pesatnya perkembangan dunia pendidikan, pembaruan di berbagai aspek perlu terus dilakukan agar kualitas pendidikan semakin meningkat. Meningkatkan mutu pendidikan memerlukan berbagai inovasi dan ide-ide segar yang mampu mendukung sistem pendidikan menjadi lebih efektif dan relevan dengan kebutuhan zaman.

Sistem pendidikan saat ini telah mengalami kemajuan yang signifikan di berbagai aspek, seperti perubahan kurikulum, penerapan teknologi dalam proses belajar mengajar, peningkatan kualitas dan jumlah tenaga pendidik, serta penyediaan sarana dan prasarana pendukung pembelajaran. Di Indonesia, perkembangan pendidikan juga


Sumber: Kabar Jombang

terlihat dari penggunaan teknologi oleh guru dalam menyampaikan materi kepada peserta didik. Selain itu, sistem pendidikan di Indonesia mengalami perubahan yang cepat ketika teknologi dimasukkan ke dalam proses pembelajaran. Dalam era digital, ada upaya untuk memasukkan teknologi informasi dan komunikasi ke dalam pembelajaran, yang diharapkan dapat meningkatkan aksesibilitas pendidikan dan kualitas pengajaran. Namun, masalah yang perlu diperhatikan bukan hanya menyediakan infrastruktur teknologi yang cukup, tetapi juga memberikan pelatihan yang tepat kepada guru tentang cara memanfaatkan teknologi ini.

Meskipun ada kemajuan dalam pendidikan di Indonesia, masih ada beberapa masalah yang perlu ditangani. Akses pendidikan yang tidak setara tidak hanya terjadi di kota dan pedesaan tetapi juga di pulau-pulau Indonesia. Selain itu, diperlukan peningkatan kualitas pengajaran, pelatihan guru, dan pembaruan kurikulum untuk menyediakan siswa untuk dunia yang berubah semakin cepat. Terakhir, tingkat pendidikan di Indonesia mencerminkan berbagai tahap sistem pendidikan nasional yang bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup warga negara dan kontribusi terhadap pembangunan negara. Sistem ini telah berkembang seiring berjalannya waktu untuk meningkatkan akses, kualitas, dan relevansi pendidikan.

 

Artikel ini disusun oleh:
Zahra Ike Fidyani
Mahasiswa Program Pengenalan Lingkungan Persekolahan (PLP) Universitas Negeri Surabaya
dari S1 Pendidikan Luar Sekolah

 

DAFTAR PUSTAKA
Adzkiyyah, Amirah. “Perkembangan Pendidikan Indonesia dari Zaman Dulu Sampai Sekarang.”Utakatikotak, 19 Agustus 2017, 09:24 WIB, https://www.utakatikotak.com/Perkembangan-Pendidikan-Indonesia-dari-Zaman-Dulu-Sampai-Sekarang/kongkow/detail/7653.

Hikmah, Ayu Esha Nur. 2024. “Literatur Review: Perkembangan Sistem Pendidikan di Era Zaman Dahulu dengan di Era Zaman Sekarang.” Journal of Community Education 4 (1), Maret.

Indonesia. (2003). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78.

Sahira, Z. N. (2021). Perbedaan pendidikan pada zaman dulu dengan pendidikan di era sekarang. AKSEL G. Diakses pada 20 Maret 2025, dari https://iainutuban.ac.id/2021/11/13/perbedaan-pendidikan-pada-zaman-dulu-dengan-pendidikan-di-era-sekarang.

Ismah, Ainun Azatil. Perkembangan Pendidikan di Indonesia. 13 April 2023, https://www.indonesiana.id/read/163335/perkembangan-pendidikan-di-indonesia.

Universitas Pendidikan Ganesha. (n.d.). Bab 1 Pendahuluan. Undiksha Repository. Diakses pada 20 Maret 2025, dari https://repo.undiksha.ac.id/7032/3/1715061003-BAB%201%20PENDAHULUAN.pdf.

Sumber foto museum Pendidikan nasional. https://museumpendidikannasional.upi.edu/penggunaan-sabak-dan-grip-sebagai-alat-tulis-kuno/

Sumber gambar compasinia.Com https://www.google.com/url?sa=i&url=https%3A%2F%2Fwww.kompasiana.com%2Falfinachoirimawati4405%2F66745451ed64154cb81ac4d3%2Fperbedaan-pendidikan-pada-zaman-dahulu-dan-sekarang&psig=AOvVaw3V9BfZQFSZNxwUTaiPI_RV&ust=1742579523471000&source=images&cd=vfe&opi=89978449&ved=0CBIQjRxqFwoTCJDOmPScmYwDFQAAAAAdAAAAABAE

Read More

Pendidikan Nonformal Solusi Fleksibel Masa Depan Cerah

Di era digital seperti sekarang, dunia kerja dan industri berkembang dengan sangat cepat. Banyak pekerjaan baru bermunculan, sementara keterampilan yang dibutuhkan terus berubah. Sayangnya, sistem pendidikan formal sering kali tidak bisa mengikuti perubahan ini dengan cukup cepat.

Dalam beberapa tahun terakhir, profesi di bidang teknologi seperti data analyst, UI/UX designer, dan digital marketer semakin banyak dicari. Namun, di banyak sekolah dan perguruan tinggi, kurikulum yang diajarkan masih belum sepenuhnya disesuaikan dengan kebutuhan industri saat ini. Akibatnya, banyak lulusan yang mengalami kesulitan dalam mendapatkan pekerjaan karena keterampilan mereka tidak sesuai dengan tuntutan dunia kerja.

Di sisi lain, tidak semua orang memiliki kesempatan untuk menempuh pendidikan formal hingga jenjang tinggi. Banyak yang harus bekerja setelah lulus SMA atau bahkan putus sekolah karena alasan ekonomi. Untuk mereka yang ingin tetap belajar dan meningkatkan keterampilan, pendidikan nonformal menjadi solusi yang lebih fleksibel dan terjangkau.

 

Salah satu contoh nyata adalah banyaknya orang yang berhasil mengubah hidupnya melalui kursus online. Misalnya, seseorang yang awalnya bekerja sebagai kasir bisa belajar coding melalui kursus daring dan akhirnya berkarier sebagai programmer. Begitu juga dengan ibu rumah tangga yang belajar bisnis online melalui pelatihan digital marketing, lalu berhasil membuka toko online sendiri.

Namun, masih banyak orang yang belum mengenal atau memahami konsep pendidikan nonformal. Apa Itu Pendidikan Nonformal? Pendidikan nonformal merupakan sistem belajar di luar jalur pendidikan formal seperti sekolah maupun perguruan tinggi. Bentuknya bisa berupa kursus, pelatihan keterampilan, bimbingan belajar, atau bahkan pembelajaran e-learning. Model pendidikan ini lebih santai dan fleksibel, bisa disesuaikan dengan kebutuhan individu, dan tidak terikat aturan ketat seperti pendidikan formal.

Apa Saja Keunggulan Pendidikan Nonformal?

  • Fleksibel dan Mudah Diakses

Pendidikan nonformal tidak terikat waktu dan tempat. Bisa dilakukan kapan saja, di mana saja, dan oleh siapa saja. Cocok untuk mereka yang sudah bekerja atau punya kesibukan lain.

  • Praktis dan Sesuai Kebutuhan

Materi yang diajarkan dalam pendidikan nonformal biasanya lebih fokus pada keterampilan yang langsung bisa diterapkan, seperti kursus bahasa asing, desain grafis, coding, atau keahlian teknis lainnya.

  • Mempercepat Karier

Dengan mengambil kursus atau pelatihan tertentu, seseorang bisa meningkatkan keterampilan dan peluang kerja lebih cepat tanpa harus menunggu bertahun-tahun seperti di pendidikan formal.

Apa saja tantangan dan cara mengatasinya?

Walaupun punya banyak keunggulan, pendidikan nonformal masih sering dipandang sebelah mata. Banyak yang menganggap ijazah formal lebih penting dibanding keterampilan nyata. Namun, kini banyak perusahaan yang lebih melihat keahlian daripada sekadar gelar. Agar pendidikan nonformal lebih diakui, penting bagi peserta untuk memilih program yang berkualitas, memiliki sertifikat yang diakui, dan terus mengasah keterampilan dengan praktik langsung.

Pendidikan nonformal menjadi pilihan fleksibel yang dapat mengatasi berbagai tantangan pendidikan di Indonesia. Dengan pendekatan yang lebih inklusif, berbasis keterampilan, dan adaptif terhadap perubahan zaman, pendidikan nonformal dapat menjadi jembatan bagi masyarakat untuk meraih masa depan yang lebih cerah. Oleh karena itu, dukungan dari pemerintah, lembaga pendidikan, serta masyarakat sangat diperlukan untuk terus mengembangkan pendidikan nonformal agar semakin luas manfaatnya bagi bangsa.

 

 

Artikel ini disusun oleh:
Mahasiswa Program Pengenalan Lingkungan Persekolahan (PLP) Universitas Negeri Surabaya
1. Zahra Ike Fidyani S1 Pendidikan Luar Sekolah
2. Trya Adinda Hastanti S1 Pendidikan Luar Sekolah
3. Vivi Oktaviani Ramadhan S1 Pendidikan Luar Sekolah
4. Alifiana Wahyuning Putri S1 Pendidikan Luar Biasa
5. Khanaya Talita S1 Pendidikan Luar Biasa
6. Sofiyyah Salma S1 Pendidikan Luar Sekolah

 

Daftar Pustaka

Darman, R. A. (2017). Mempersiapkan generasi emas indonesia tahun 2045 Melalui Pendidikan Berkualitas. Jurnal Edik Informatika Penelitian Bidang Komputer Sains Dan Pendidikan Informatika, 3(2), 73–87.

Kindervatter, S. (1979). Nonformal education as an empowering process with case studies from Indonesia and Thailand.

Pamungkas, A. H., Sunarti, V., & Wahyudi, W. A. (2018). Peran PKBM dalam Peningkatan Pertumbuhan Ekonomi dan Kesejahteraan Hidup Masyarakat Sesuai Target SDGs. SPEKTRUM: Jurnal Pendidikan Luar Sekolah (PLS), 6(3), 303–309.

Read More

Buket Bunga Dari Kancing Baju, Kreasi Anak Homeschooling

Membuat Buket Bunga dari Kancing Baju adalah salah satu kegiatan Life Skill Class yang diselenggarakan oleh Homeschooling Bintang. Tujuannya adalah mengajarkan keterampilan hidup (life skills) kepada anak-anak atau remaja melalui proyek kerajinan tangan, karena hal ini adalah cara yang sangat efektif untuk mengasah kreativitas mereka, serta mengajarkan nilai-nilai seperti ketekunan, perencanaan, dan kerja tim. Salah satu proyek yang menarik dan bermanfaat dalam kelas life skill adalah membuat buket bunga dari kancing. Selain menghasilkan kerajinan yang indah, proyek ini juga mengajarkan banyak keterampilan praktis.

Membuat kerajinan tangan adalah cara yang menyenangkan untuk mengekspresikan kreativitas dan menghasilkan barang-barang unik. Salah satu proyek kerajinan yang menarik adalah membuat buket bunga dari kancing baju. Selain dapat menggunakan bahan-bahan yang mudah ditemukan di rumah, hasilnya pun bisa sangat cantik dan dekoratif. Berikut adalah langkah-langkah untuk membuat buket bunga dari kancing baju:

 Bahan yang Diperlukan:

– Kancing baju (berbagai ukuran dan warna)

– Renda atau pita untuk hiasan

– Pot kecil atau wadah berbentuk ember

– Kawat bunga atau kawat tipis

– Lem tembak atau lem kuat

– Jarum dan benang

– Daun plastik atau daun kering (opsional)

– Gunting

 Langkah-langkah Membuat Buket Bunga dari Kancing Baju:

  1. Mempersiapkan Wadah Buket

 Siapkan pot kecil atau wadah berbentuk ember yang akan digunakan sebagai tempat bunga. Anda bisa menggunakan pot plastik kecil atau wadah daur ulang yang ada di rumah. Jika ingin menambahkan sentuhan pribadi, Anda bisa menghias pot dengan kain, pita, atau cat untuk memberikan kesan lebih menarik.

  1. Membuat Bunga dari Kancing
  • Ambil beberapa kancing baju dengan berbagai ukuran dan warna yang sesuai dengan tema bunga yang ingin Anda buat. Pilih kancing yang memiliki lubang atau tanpa lubang, tergantung pada desain bunga yang diinginkan.
  • Untuk membuat bunga, pasang kancing pada kawat bunga. Ambil kawat dan masukkan melalui lubang kancing, jika kancing memiliki lubang. Jika tidak, Anda bisa menggunakan lem untuk menempelkan kancing pada kawat.
  • Bentuk kelopak bunga dengan menempelkan beberapa kancing pada kawat dengan pola melingkar atau menyusun kancing secara berlapis-lapis agar terlihat seperti kelopak bunga.
  1. Membuat Batang dan Daun

Ambil kawat bunga yang lebih panjang untuk membuat batang bunga. Jika Anda ingin menambahkan daun, Anda bisa menggunakan daun plastik atau daun kering yang ditempelkan pada batang menggunakan lem. Anda juga bisa membuat daun dari kain atau kertas dengan cara melipatnya dan menjepitnya di sepanjang batang bunga.

  1. Menempelkan Bunga ke Wadah

Setelah selesai membuat bunga dan batang, masukkan ujung kawat bunga ke dalam pot kecil atau wadah ember. Gunakan lem tembak atau lem kuat untuk memastikan kawat tertahan dengan baik di dalam pot. Jika Anda ingin menambahkannya dengan dekorasi lainnya, Anda bisa menutupi bagian atas pot dengan kain atau bahan hiasan lainnya.

  1. Finishing

 Setelah bunga dan batang terpasang dengan rapi, tambahkan pita atau renda di sekitar bagian luar pot untuk memberikan kesan lebih elegan. Anda bisa menggantungkan pot ini sebagai dekorasi di ruangan atau memberikannya sebagai hadiah unik untuk teman atau keluarga.

Tips Tambahan:

– Gunakan kancing dengan berbagai tekstur dan warna untuk menambah variasi pada bunga.

– Untuk lebih variatif, kita bisa menambahkan beberapa bunga dengan ukuran yang berbeda dalam satu wadah.

Membuat buket bunga dari kancing baju adalah cara yang menyenangkan untuk mendaur ulang bahan-bahan lama dan menghasilkan dekorasi yang unik. Dengan sedikit kreativitas, Anda dapat menghasilkan kerajinan yang cantik dan berguna, baik untuk hiasan rumah maupun sebagai hadiah spesial untuk orang tersayang.

 

Artikel ini disusun oleh:
Khanaya Talita
Mahasiswa Program Pengenalan Lingkungan Persekolahan (PLP) Universitas Negeri Surabaya
dari Jurusan S1 Pendidikan Luar Biasa

Read More

Bakti Sosial di Bulan Ramadan Bersama Homeschooling Bintang

Ramadhan merupakan bulan penuh berkah yang menjadi momentum bagi umat Muslim untuk memperbanyak amal ibadah, salah satunya dengan melaksanakan kegiatan bakti sosial (baksos). PKBM Homeschooling Bintang, sebagai lembaga pendidikan yang peduli terhadap sesama, menyelenggarakan kegiatan baksos di bulan Ramadhan untuk memberikan manfaat kepada masyarakat sekitar yang melibatkan langsung siswa-siswanya. Kegiatan ini diadakan sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat sekitar, sekaligus untuk menumbuhkan rasa empati dan solidaritas pada generasi muda. Kegiatan baksos yang dilaksanakan oleh PKBM Homeschooling Bintang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran sosial siswa-siswa dalam membantu mereka yang kurang beruntung. Selain itu, kegiatan ini juga mengajarkan nilai-nilai berbagi, keikhlasan, dan pentingnya gotong royong dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan melibatkan siswa dalam kegiatan ini, PKBM Homeschooling Bintang berharap dapat menanamkan semangat kepedulian yang akan terus tumbuh dalam diri mereka, tidak hanya di bulan Ramadhan tetapi sepanjang tahun.

Dalam penyebaran titik lokasi Baksos Tahun ini  meliputi Daerah Sidosermo, margorejo,Prapen, Ngagel, Semolowaru, Bratang, BarataJaya, Tenggilis Dan Kendangsari. Tidak hanya siswa saja yang berpartisipasi namun ada kakak-kakak staff,  Tutor, dan kakak PLP.

Kegiatan baksos yang dilaksanakan di bulan Ramadhan ini memberikan banyak manfaat, baik bagi penerima bantuan maupun bagi para siswa dan pengajar yang terlibat dalam kegiatan tersebut manfaatnya di antara lain Meningkatkan Kepedulian Sosial bagi Para siswa dan pengajar belajar untuk lebih peduli terhadap sesama, memahami pentingnya berbagi, dan mengembangkan rasa empati terhadap mereka yang membutuhkan. Mempererat Tali Silaturahmi Melalui kegiatan ini, hubungan antara PKBM Homeschooling Bintang dengan masyarakat sekitar semakin erat. Silaturahmi yang terjalin ini menjadi sarana yang baik untuk saling mendukung dan bekerja sama dalam membangun lingkungan yang lebih baik. Mengajarkan Nilai-Nilai Kebaikan dalam Kegiatan ini juga menjadi sarana untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan, kebersamaan, dan kepedulian sosial kepada generasi muda. Dengan begitu, mereka tumbuh menjadi individu yang lebih peduli terhadap orang lain dan lingkungan sekitar.

 

Artikel ini disusun oleh:
Malla Rusdianah
Mahasiswa Program Pengenalan Lingkungan Persekolahan (PLP) Universitas Negeri Surabaya
dari Jurusan S1 Pendidikan Luar Sekolah

Read More

Mengenal Perbedaan Pendidikan Formal, Informal, dan Nonformal: Membuka Cakrawala Pembelajaran Sepanjang Hayat

Pendidikan merupakan sebuah perjalanan tanpa akhir dalam hidup, hadir dalam beragam bentuk dan jalur. Seringkali kita terpaku pada satu jenis pendidikan, yakni pendidikan formal yang terstruktur dan berjenjang. Namun, perlu diketahui bahwa pembelajaran sesungguhnya melampaui batas ruang kelas dan kurikulum terstandar. Tanpa kita sadari, proses belajar terus berlangsung melalui interaksi sehari-hari dan berbagai kegiatan di luar sistem sekolah. Inilah esensi dari pendidikan informal dan nonformal, dua pilar yang melengkapi pendidikan formal dalam membentuk individu yang utuh dan berpengetahuan luas. Ketiga jenis pendidikan ini tentunya memiliki perbedaan karakteristik. Artikel ini bertujuan untuk mengupas tuntas perbedaan mendasar antara ketiganya, membuka cakrawala kita terhadap berbagai jalur pembelajaran yang tersedia, dan menggarisbawahi pentingnya setiap jenis pendidikan dalam pengembangan diri.

Pendidikan Formal : Tersruktur dan Berjenjang


(Source : detik.com/bali/berita)

Pendidikan formal adalah jenis pendidikan yang terstruktur, terorganisir, dan memiliki kurikulum yang jelas. Pendidikan formal mengikuti kurikulum yang telah ditetapkan dan terstandar, yang mencakup mata pelajaran atau bidang studi yang harus dipelajari. Biasanya diselenggarakan oleh lembaga-lembaga pendidikan resmi seperti sekolah dan perguruan tinggi. Tujuan utama pendidikan formal adalah memberikan pengetahuan dan keterampilan yang terstruktur serta mempersiapkan peserta didik untuk jenjang pendidikan berikutnya atau memasuki dunia kerja. Proses pembelajaran dalam pendidikan formal umumnya melibatkan pengajar professional, evaluasi yang terstruktur, dan diakhiri dengan pemberian sertifikat atau ijazah yang diakui secara resmi. Ciri khas pendidikan formal adalah adanya jenjang pendidikan yang sistematis, mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi.

Pendidikan Informal : Pembelajaran melalui kehidupan sehari-hari


(Source : Liputan6.com)

Berbeda dengan pendidikan formal, pendidikan informal merupakan proses pembelajaran yang terjadi di luar struktur formal. Pendidikan ini berlangsung secara alami dalam kehidupan sehari-hari, melalui interaksi dengan keluarga, teman, lingkungan, dan pengalaman hidup. Pembelajaran informal bersifat spontan, tidak terencana, dan tidak memiliki kurikulum yang baku. Contohnya adalah belajar berbicara dari orang tua, mempelajari keterampilan sosial melalui interaksi dengan teman sebaya, atau memperoleh pengetahuan melalui pengalaman bekerja. Pendidikan informal memainkan peran krusial dalam pembentukan karakter, nilai-nilai, dan keterampilan praktis yang seringkali tidak didapatkan dalam pendidikan formal.

Pendidikan Nonformal : Fleksibilitas dan Fokus pada Keterampilan


(Source : homeschoolingbintang.sch.id)

Pendidikan Nonformal berada di antara pendidikan formal dan informal. Pendidikan ini terorganisir, namun lebih fleksibel dan tidak selalu mengikuti struktur jenjang pendidikan formal. Pendidikan nonformal seringkali berfokus pada pengembangan keterampilan praktis, pengetahuan spesifik, atau minat tertentu. Contohnya adalah homeschooling, kursus bahasa, pelatihan keterampilan computer, sanggar seni, atau program-program pelatihan kerja. Pendidikan nonformal memiliki peran penting dalam memberikan kesempatan belajar  bagi mereka yang tidak dapat mengakses pendidikan formal atau membutuhkan keterampilan tambahan untuk meningkatkan kualitas hidup atau karir. Pendidikan formal ini juga disebut sebagai pendidikan sepanjang hayat yang dapat dilakukan oleh siapa saja, di mana saja, dan kapan saja. Artinya pendidikan nonformal tidak memandang usia, tempat, dan waktu. Pendidikan nonformal dapat berlangsung diberbagai tempat bisa secara luring maupun daring dengan waktu yang lebih fleksibel, memungkinkan peserta untuk belajar sesuai dengan ketersediaan.

Meskipun berbeda dalam struktur dan metode, ketiga jenis pendidikan ini saling melengkapi dan berkontribusi pada proses pembelajaran sepanjang hayat. Pendidikan formal memberikan fondasi pengetahuan yang kuat, pendidikan informal membentuk karakter dan keterampilan sosial, sementara pendidikan nonformal memberikan keterampilan praktis dan pengetahuan spesifik yang relevan dengan kebutuhan individu.

Artikel ini disusun oleh:
Trya Adinda Hastanti
Mahasiswa Program Pengenalan Lingkungan Persekolahan (PLP) Universitas Negeri Surabaya
dari Jurusan S1 Pendidikan Luar Sekolah

Reference :

Syaadah, R., Ary, M. H., Silitonga, N., & Rangkuty, S. F. (2022). Pendidikan Formal, Pendidikan Non Formal, dan Pendidikan Informal. Jurnal Pendidikan dan Pengabdian Kepada Masyarakat , 125-131.

https://www.kompas.com/edu/read/2022/09/02/144900171/apa-itu-pendidikan-formal-non-formal-dan-informal-ini-bedanya?page=all, di akses pada 20 Maret 2025

Read More

Strawberry Cheesecake ala Homeschooling Bintang

Strawberry Cheesecake adalah hidangan penutup yang memadukan kelezatan krim keju yang lembut dengan kesegaran stroberi yang menggoda. Kombinasi rasa manis, asam, dan gurih ini menciptakan sensasi yang tak terlupakan di setiap gigitan.

Sejarah Singkat

Cheesecake telah ada sejak zaman Yunani kuno, tetapi versi modern dengan krim keju baru populer pada abad ke-18 di Amerika Serikat. Strawberry Cheesecake sendiri merupakan variasi yang relatif baru, tetapi dengan cepat menjadi favorit banyak orang.

Manfaat Strawberry Cheesecake

Selain rasanya yang lezat, Strawberry Cheesecake juga memiliki beberapa manfaat:

  • Stroberi kaya akan vitamin C dan antioksidan.
  • Krim keju mengandung kalsium dan protein.
  • Cheesecake dapat meningkatkan suasana hati dan mengurangi stres.

Makanan ini juga bisa menjadi alternatif camilan yang bisa dicoba untuk menemani Moms and Dads berbuka puasa. Kali ini Homeschooling Bintang akan menugaskan anak-anak untuk membuat camilan ini dari rumah masing-masing bersama dengan Moms and Dads. Yuk simak video tutorialnya berikut ini:

Sebagai persiapan menunggu buka puasa boleh lah Moms and Dads recook resep dari Homeschooling Bintang berikut ini:

Alat dan bahan:

1) Alat

  • Teflon
  • Telenan
  • Pisau
  • Chopper
  • Mixer
  • Spatula
  • Sendok
  • Centong sayur
  • Mangkuk
  • Piring
  • Nampan
  • Baskom
  • Plastik es
  • Cup dessert ukuran kecil

2) Bahan

  • Buah strawberry
  • Whipcream bubuk
  • Biskuit marie regal
  • Selai strawberry
  • Agar-agar merah
  • Cream cheese/cheese spready
  • Sedikit susu kental manis
  • Gula
  • Unsalted butter/butter
  • Air
  • Es batu

Langkah kerja:
Layer 1

1. Siapkan biskuit marie regal, butter dan plastik es/chopper.
2. Cara manual : masukkan biskuit ke dalam plastik, putar ujung plastik agar biskuit tidak berceceran, lalu hancurkan biskuit sampai sedikit halus. Cara cepat : masukkan biskuit ke dalam chopper, nyalakan chopper dan tunggu sampai biskuit hancur sedikit halus.
3. Siapkan teflon yang berisi air, panaskan teflon (tidak usah menunggu air mendidih). Masukkan butter secukupnya ke dalam mangkuk. Lelehkan butter diatas air yang dipanaskan. (Perhatikan tutorial video LSC)
4. Biskuit yang sudah dihancurkan letakkan di wadah, campurkan biskuit dengan lelehan butter.
5. Setelah tercampur, masukkan 1 sendok makan adonan biskuit ke dalam cup dessert. Jangan lupa ratakan dan tekan-tekan sedikit.
6. Masukkanlah ke dalam lemari es kurang lebih 20-30 menit.

Layer 2
1. Siapkan whipcream bubuk, air mineral 300 ml, es batu, susu kental manis, cream cheese/cheese spready, baskom, spatula/mixer.
2. Campurkan air dengan es batu, tunggu sampai dingin. Masukkan whipcream bubuk ke dalam baskom, campurkan air es lalu kocok menggunakan spatula/mixer.
3. Kocok dengan kecepatan tinggi sampai adonan menjadi padat berbentuk krim.
4. Setelah whipcream jadi, campurkan dengan cream cheese/cheese spready dan aduk rata. Tambahkan susu kental manis sesuai selera.
5. Bagi menjadi dua bagian whipcream di wadah yang berbeda dan pisahkan.
6. Gunakan 1 bagian untuk menjadi layer kedua.
7. Ambil whipcream dengan sendok lalu tuangkan diatas adonan biskuit (layer 1), ratakan kemudian masukkan ke kulkas dengan waktu kurang lebih 20-30 menit.

Layer 3
1. Siapkan 1 sachet agar-agar merah dan air. Aduklah dan tambahkan gula (sesuai takaran petunjuk agar-agar) hingga larut.
2. Kemudian, masaklah dengan menggunakan api kecil dan aduk-aduk agar tidak menggumpal.
3. Masaklah kurang lebih 5-10 menit hingga mendidih. Jika sudah mendidih, sisihkan ke dalam wadah hingga sedikit dingin.
4. Ambil adonan yang tadi kita masukkan ke kulkas (yang sudah dilapisi 2 layer), lalu tuangkan agar-agar ke dalam cup.
5. Masukkanlah cup strawberry cheesecake kembali ke dalam lemari es kurang lebih 15 menit.

Layer 4
1. Siapkan 1 bagian whipcream yang tadi disisihkan dan selai strawberry.
2. Campurkan whipcream dengan selai strawberry, aduk hingga rata.
3. Adik-adik bebas menuangkan selai kedalam whipcream, sesuai selera masing-masing.
4. Kemudian siapkan adonan yang ada di cup tadi, tuangkan strawberry cream diatas layer agar-agar yang sudah mengeras. Jangan lupa ratakan.

Layer 5
1. Siapkan buah strawberry, telenan, dan pisau.
2. Buang daun pada buah strawberry, kemudian cuci buah hingga bersih.
3. Potong strawberry menjadi bentuk kotak-kotak kecil.
4. Kemudian keluarkan adonan dari kulkas, dan letakkan di meja.
5. Taburkan potongan buah strawberry diatas layer 4 atau yang paling atas.
6. Terakhir, masukkanlah ke dalam lemari es kurang lebih 20-30 menit sebelum siap untuk disajikan. 7. Strawberry Cheesecake siap untuk dinikmati 😊

Read More

Benang Wol Disulap Jadi Keranjang Mini Menggemaskan

Benang Wol disulap menjadi keranjang mini pada kegiatan Life Skill Class Homeschooling Bintang kali ini (31/01/2025). Kegiatan ini adalah salah satu topik kerajinan tangan dalam kegiatan Life Skill Class di Homeschooling Bintang. Nah bagaimana langkah-langkahnya yuk simak penjelasan di video berikut ini:

Dalam kegiatan ini anak-anak sangat antusias, mereka mencoba berkreasi sesuai dengan selera mereka masing-masing, ada yang dibuat dengan sangat detail, ada pula yang dibuat dengan simpel namun unik.

 

 

 

 

 

 

 

Tertarik untuk mencoba yuk ikuti langkah-langkah berikut ini:

Alat dan bahan:

1) Alat

➢ Gunting

➢ Double tip

➢ Lem tembak

2) Bahan

➢ Benang wol

➢ Gelas kertas kecil/sedang

➢ Kawat

Langkah kerja:

Proses pembuatan

1. Siapkan satu buah gelas kertas kecil/sedang.

➢ Hiasan manik

➢ Hiasan renda

2. Gunting dari sisi atas gelas sampai ujung bawah (sisakan kurang lebih 1 cm). Guntinglah sampai seluruh permukaan gelas membentuk pola (lihat tutorial video youtube).

3. Tempel double tip secara melingkar pada ujung bawah gelas yang sudah disisakan tadi, kemudian lepas bagian kertas pada double tip hingga terlihat bagian perekatnya.

4. Siapkan benang wol, tempelkan pada gelas yang sudah diberi double tip (tempel sampai bagian perekatnya tidak terlihat). Boleh ditambahkan lem tembak untuk ujung pertama benang.

5. Selanjutnya, baliklah permukaan gelas dan mekarkanlah semua pola yang sudah tergunting. Mulailah menganyam benang wol pada gelas kertas secara selang-seling hingga semua sisi gelas tertutup benang dan membentuk sebuah keranjang (Perhatikan tutorial video youtube).

6. Penganyaman benang pada gelas tidak sampai terlalu ujung, karena nanti ujungnya akan kita gunting. Jangan lupa rapikan menggunakan lem tembak.

7. Siapkan kawat, lilitkan sisa benang wol pada kawat yang sudah dilapisi double tip. Lekukan kawat seperti huruf “n”, lalu tempelkan sisi kanan dan kiri kawat ke bagian dalam keranjang menggunakan lem tembak (lihat tutorial video youtube).

8. Hias sesuai kreativitas kalian, bisa menggunakan manik-manik, renda, atau hiasan lain.
9. Keranjang mini benang wol sudah jadi dan siap digunakan

Read More

Hari Perempuan Internasional 2025, Menuju Kesetaraan Digital

Peringatan Hari Perempuan Internasional 2025

Setiap tahun, pada tanggal 8 Maret, dunia memperingati Hari Perempuan Internasional (International Women’s Day atau IWD). Peringatan ini merupakan momen penting untuk merayakan pencapaian perempuan di berbagai bidang, sekaligus menyerukan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan.

Pada tahun 2025, tema yang diangkat adalah “Perempuan dan Teknologi”. Tema ini menyoroti peran penting perempuan dalam dunia teknologi yang terus berkembang, serta tantangan yang dihadapi dalam mencapai kesetaraan digital.

Mengapa Perempuan dan Teknologi Menjadi Tema Peringatan Hari Perempuan Internasional 2025?

Teknologi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita. Dari komunikasi hingga pekerjaan, teknologi memengaruhi hampir setiap aspek kehidupan. Namun, kesenjangan gender dalam bidang teknologi masih sangat besar. Perempuan masih kurang terwakili dalam bidang STEM (Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika), serta dalam posisi kepemimpinan di perusahaan teknologi.

Oleh karena itu, Hari Perempuan Internasional 2025 menjadi momentum untuk:

  • Mendorong partisipasi perempuan dalam bidang teknologi: Meningkatkan akses perempuan terhadap pendidikan dan pelatihan teknologi, serta menciptakan lingkungan kerja yang inklusif bagi perempuan di industri teknologi.
  • Mengatasi kesenjangan digital: Memastikan bahwa perempuan memiliki akses yang sama terhadap teknologi dan internet, serta keterampilan digital yang dibutuhkan untuk berpartisipasi dalam ekonomi digital.
  • Merayakan pencapaian perempuan di bidang teknologi: Mengakui kontribusi perempuan dalam inovasi dan pengembangan teknologi, serta memberikan inspirasi bagi generasi perempuan berikutnya.

Sejarah Hari Perempuan Internasional

Hari Perempuan Internasional berakar dari gerakan buruh perempuan pada awal abad ke-20. Pada tanggal 8 Maret 1908, ribuan perempuan di New York City melakukan aksi demonstrasi menuntut hak-hak ekonomi dan politik mereka.

Berikut adalah garis besar sejarah Hari Perempuan Internasional:

  • 1909: Partai Sosialis Amerika Serikat menetapkan Hari Perempuan Nasional pertama pada tanggal 28 Februari.
  • 1910: Clara Zetkin, seorang aktivis Jerman, mengusulkan Hari Perempuan Internasional pada Konferensi Perempuan Sosialis Internasional di Kopenhagen.
  • 1911: Hari Perempuan Internasional pertama dirayakan di Austria, Denmark, Jerman, dan Swiss pada tanggal 19 Maret.
  • 1917: Perempuan di Rusia melakukan aksi mogok kerja pada tanggal 8 Maret (23 Februari menurut kalender Julian yang digunakan saat itu), yang memicu Revolusi Februari.
  • 1975: Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) secara resmi mengakui Hari Perempuan Internasional pada tanggal 8 Maret.
  • 2025 : PBB menetapkan tema Hari Perempuan Internasional yakni “For ALL women and girls: Rights, Equality, Empowerment”.

Sejak saat itu, Hari Perempuan Internasional terus diperingati setiap tahun pada tanggal 8 Maret, sebagai pengingat akan perjuangan perempuan dalam mencapai kesetaraan dan hak-hak mereka.

Hari Perempuan Internasional 2025 mengajak kita semua untuk berkolaborasi dalam menciptakan dunia yang lebih adil dan inklusif bagi perempuan, terutama di bidang teknologi. Mari kita pastikan bahwa perempuan memiliki peran yang setara dalam membentuk masa depan teknologi.

Peran Pendidikan dalam Mendorong Partisipasi Perempuan di Bidang Teknologi Pada Peringatan Hari Perempuan Internasional 2025

Dunia pendidikan memegang peranan kunci dalam membentuk generasi perempuan yang melek teknologi dan siap berkontribusi dalam inovasi digital. Berikut adalah beberapa aspek penting:

  • Pendidikan STEM sejak dini:
    • Mendorong minat dan partisipasi perempuan dalam bidang Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika (STEM) sejak usia dini.
    • Menghilangkan stereotip gender yang menghambat perempuan untuk mengejar karier di bidang STEM.
    • Menyediakan akses yang sama terhadap pendidikan dan pelatihan STEM berkualitas bagi perempuan di semua tingkatan.
  • Pengembangan keterampilan digital:
    • Mengintegrasikan pendidikan keterampilan digital ke dalam kurikulum di semua tingkatan pendidikan.
    • Memberikan pelatihan keterampilan digital yang relevan dengan kebutuhan industri teknologi saat ini dan masa depan.
    • Memastikan bahwa perempuan memiliki akses yang sama terhadap pelatihan keterampilan digital, terutama di daerah terpencil dan komunitas yang kurang terlayani.
  • Penciptaan lingkungan belajar yang inklusif:
    • Menciptakan lingkungan belajar yang aman dan mendukung bagi perempuan untuk mengeksplorasi dan mengembangkan minat mereka di bidang teknologi.
    • Mendorong partisipasi aktif perempuan dalam kegiatan ekstrakurikuler yang berkaitan dengan teknologi, seperti klub robotika dan pemrograman.
    • Menyediakan mentor perempuan yang sukses di bidang teknologi untuk menginspirasi dan membimbing generasi perempuan berikutnya.
  • Pemberdayaan melalui literasi digital:
    • Memberikan literasi digital yang mendalam kepada seluruh pelajar perempuan, bukan hanya dalam penggunaan, tetapi juga dalam pemahaman akan dampak teknologi.
    • Mendorong pelajar perempuan untuk dapat berfikir kritis dalam menyikapi informasi yang didapatkan dari dunia digital.
    • Membekali pelajar perempuan dengan pengetahuan mengenai keamanan digital.

Pendidikan sebagai Kunci Kesetaraan Digital

Dengan berinvestasi dalam pendidikan yang berfokus pada teknologi dan inklusivitas gender, kita dapat:

  • Menciptakan angkatan kerja perempuan yang terampil dan kompeten di bidang teknologi.
  • Mendorong inovasi dan pengembangan teknologi yang lebih inklusif dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
  • Mengurangi kesenjangan digital dan memastikan bahwa perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dalam ekonomi digital.
  • Membangun generasi perempuan yang berdaya, dan mampu memberikan kontribusi yang besar bagi kemajuan bangsa.

Oleh karena itu, Hari Perempuan Internasional 2025 menjadi panggilan bagi semua pihak, termasuk lembaga pendidikan, pemerintah, dan sektor swasta, untuk bekerja sama dalam menciptakan dunia pendidikan yang memberdayakan perempuan di bidang teknologi.

Homeschooling Bintang Mendukung Perempuan untuk Berkarya di Bidang Teknologi

Di Homeschooling Bintang dari total 30 Staff dan Pengajar, sebanyak 24 orang adalah perempuan. Mereka mendedikasikan hidupnya untuk mengabdi dalam dunia pendidikan demi terciptanya generasi emas bagi para penerus bangsa. Sebagian besar di antaranya adalah para pengajar di mata pelajaran yang berkaitan dengan STEM (Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika). Para pengajar perempuan terus berupaya aktif untuk memberikan layanan pendidikan yang terbaik dengan memanfaatkan teknologi yang serba canggih di zaman ini. Mulai dari penggunaan berbagai perangkat teknologi hingga aplikasi pendukung kegiatan belajar mengajar. Pada pengajar perempuan tidak hanya menjadi pengajar namun juga menjadi pendengar, pendamping, dan juga penuntun bagi peserta didik. Tidak hanya mengajarkan mata pelajaran namun juga mencontohkan akhlak yang baik serta terus memberikan semangat agar peserta didik dapat berkembang sesuai dengan kodratnya masing-masing. 

Read More