Aby sejak kecil telah saya biasakan bilingual, mulai pengenalan angka, huruf, bentuk, warna, dan anggota tubuh. Komunikasi kami sehari-hari menggunakan Bahasa Indonesia, tetapi saya ingin agar Aby sudah terlatih sejak dini mengenal bahasa asing, terutama untuk kosakata maupun pengucapan yang benar.
Sejak usia 4.5 tahun, Aby sudah bergabung dengan salah satu lembaga kursus bahasa Inggris di level Small Stars. Dia senang belajar di lembaga tersebut, sampai akhirnya harus berhenti karena pandemi. Kemudian, berbagai kursus Bahasa Inggris saya coba. Lucunya, saya waktu itu iseng memasukkannya ke salah satu kursus yang biayanya murah. Ternyata kelas besar dan tutornya tidak melafalkan beberapa kata dengan benar. Aby langsung protes 😁
Setelahnya, saya masukkan dia ke Lembaga Kursus lainnya. Dia enjoy sampai paket belajarnya habis.
Akhirnya, saya kembalikan dia di Lembaga Kursus yang pertama kali diikuti dan sudah di level Trailblazer ( dua level setelah Small Stars).
Pemicunya mungkin karena saya juga suka Bahasa Inggris dan saya terbiasa mendengarkan lagu berbahasa Inggris. Mungkin dari situ Aby akhirnya tertarik dengan Bahasa Inggris.
Biasanya, anak-anak masih berubah-ubah soal cita-cita. Namun, Aby selalu mengatakan bahwa dia ingin menjadi seorang dokter spesialis anak.
Bahasa Inggris yang fluent menurut saya akan berguna dalam bidang apa pun. Jadi, kami sebagai orang tua akan mengarahkan potensinya untuk bisa berada dalam jalur menuju cita-citanya.
Kalau soal kemampuannya berbahasa Inggris, tentunya meningkat dan saya terus mendorong dia untuk lebih meningkatkan kemampuannya.
Aby sekarang ini lebih suka mendengarkan lagu-lagu berbahasa Inggris. Dia juga mulai membaca cerita pendek berbahasa Inggris yang selalu ada pesan moralnya.
Aby tipe anak yang easy going. Kalaupun ada keraguan, dia bisa mengatasinya dengan baik. Meskipun begitu, kami tetap mendorong dia untuk melakukan persiapan dalam menghadapi apa pun, termasuk lomba.
Tantangan terbesar adalah membuat Aby terlibat percakapan berbahasa Inggris. Saya pernah bikin jadwal English Day di rumah, tetapi mendadak Aby menjadi anak yang pendiam 😁
Namun, ketika dia berada bersama teman-temannya saat kursus, komunikasi bisa berjalan.
Saat saya baca pengumuman itu, hal pertama yang terjadi pada saya adalah menangis dan memohon ampun kepada Allah karena saya sempat meragukan kemampuan Aby.
Seperti saya katakan sebelumnya, Aby tipe easy going. Dia anaknya mengalir, seratus delapan puluh derajat berbeda dengan saya. Bagi saya, persiapan itu penting. Bagi Aby, ketika dia sudah merasa bisa, itu cukup.
Nah, inilah tantangan saya dalam mendidik Aby. Akhirnya, saya mix. Dia tetap harus melakukan persiapan, tapi waktunya dia yang tentukan.
Jadi, saya merasa berdosa pernah meragukan kemampuan Aby. Sebenarnya saya percaya dengan kemampuannya, tetapi melihatnya tidak melakukan persiapan itu, menimbulkan kekhawatiran.
Muncul rasa bangga pada dirinya. Medalinya digantung di atas cermin 😁
Kalau perubahan, saya rasa tidak ada, ya. Aby memang anak yang percaya diri. Dia akan mengutarakan pendapatnya tanpa ragu. Dia akan bertanya kalau dia rasa ada yang tidak dia pahami. Dia akan mendebat jika dia rasa ada cara lain untuk meraih tujuan yang sama.
Mengetahui minat dan bakat anak itu butuh kesabaran dan usaha. Terlebih, jika tipe anaknya seperti Aby, dominan dan kritis.
Aby bisa melakukan banyak hal dengan baik, tetapi tidak semua disertai mood yang pas. Jadi, ketika dia merasa tidak mood atau tidak suka, hal yang sebenarnya dia bisa lakukan dengan baik, tidak dia lakukan.
Nah, mengenali bakat dan minat anak butuh waktu. Proses selanjutnya adalah memberikan pengertian bahwa dia berbakat dan berminat di bidang ini dan itu. Kemudian, mengarahkan dan mendukung juga merupakan bagian penting untuk membuat anak benar-benar merasa bahwa “yes, it’s me”.
Alhamdulillah, Aby tidak kecanduan gadget. Ketika dia akses Youtube, dia mencari segala informasi tentang hal-hal yang dia suka: soal lampu, ikan hias, astronomi, dan pengetahuan tentang kesehatan.
Aby juga berkegiatan di sekolah metaverse di after school program. Di sini dia berhubungan dengan dunia digital. Dia banyak menggunakan komputer karena dunia di sekolah itu full digital. Aby sangat menyukainya.
Sejak kecil, Aby juga suka angka-angka. Kebetulan, saya juga suka Matematika. Akhirnya, saya masukkan ke salah satu lembaga kursus matematika sewaktu kelas V SD dan saat ini Aby sudah berada di dua level di atas kelas V SD yaitu di Matematika kelas VII. Hal ini membuat Aby meraih KUMON Award dan mendapatkan piala yang ceremony-nya akan diadakan di bulan Desember nanti.
Jadi, bagi saya, tidak ada hal yang Aby lakukan dan saya anggap main-main. Saya biasanya akan memberikan beberapa level respons. Kalau sampai di level respons 2, Aby masih fokus, berarti potensinya ada. Tapi, kalau di level 2 respons turun dan beralih ke hal lain, maka tidak saya teruskan.
Bedanya, anak bertumbuh. Pembelajaran dia bersifat maju. Sedangkan orang tua, belajar untuk membersamai dengan memahami karakter anak. Kadang, karakter anak berbeda dengan ibu atau ayah. Di sinilah, orang tua harus mampu mengelola ego agar tercipta proses belajar bersama-sama yang menyenangkan.